Perjuangan Mbah Par, Penjual Kacang yang Pantang Mengemis



Setiap orang memiliki komitmen dalam menjalani hidup. Perjalanan yang ditempuh akan menjadi salah satu cara untuk bisa tetap kuat. Mbah Par merupakan perempuan yang sangat kuat menjalani hidupnya. Anda harus menyimak kisah inspiratif dari Mbah Par penjual kacang yang pantang mengemis.

Asal Usul Mbah Par


Mbah Par tinggal di daerah Dusun Ngledok, yang ada di Desa Bondowoso, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Anda yang pernah ke Yogyakarta jika pergi ke Borobudur pasti akan melewati Magelang. Dari rumah Mbah Par untuk sampai di masjid tempatnya berjualan berjarak sekitar 3-4 kilometer. 

Perjuangan Mbah Par, Penjual Kacang yang Pantang Mengemis

Mbah Par memiliki tiga orang anak yang harus ia biayai karena suaminya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Meskipun hanya berjualan kacang rebus, Mbah Par berhasil menyekolahkan anaknya sampai selesai pendidikan. Setelah tanggung jawabnya selesai ia tetap berjualan kacang karena tidak ingin menjadi beban anak-anaknya. 

Cerita Mbah Par dengan Dagangan Kacannya


Mbah Par merupakan wanita paruh baya yang aktivitasnya berjualan kacang di depan pintu masuk masjid. Beliau duduk di pinggir jalan yang merupakan jalan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Jalan yang arahnya menuju Yogyakarta.

Sekalipun usianya sudah 55 tahun Mbah Par sama sekali tidak pantang menyerah. Ia terus berjuang untuk bisa mendapatkan nafkah. Kacang yang dijualnya diletakkan dalam wadah dengan bahan bambu. Di dalam wadah itu ada segunduk kacang rebus. Tidak hanya kacang, Mbah Par juga menjual salak pondok. 

Kacang rebus dijual Mbah Par dengan harga Rp5000,00 per satu gelas. Wajahnya selalu sumringah jika ada yang datang membeli kacang.  Mbah Par mulai berjualan ke masjid sekitar jam 7 pagi sampai dengan magrib. Jika kacang rebusnya banyak ia akan mulai berjualan dengan keliling di sekitar desanya. 

Kacang Tidak Habis, Mbah Par Tidak Menangis


Tahukah Anda Mbah Par ini benar-benar kuat. Dagangan kacang rebusnya tidak selalu habis tetapi beliau tidak pernah menangis. Buat Mbah Par sekali pun tidak habis ia tetap bersyukur karena kacang yang dijualnya beberapa bungkus saja sudah melebihi modalnya. Harga kacang dibeli olehnya hanya Rp20.000,00 untuk 20 kilogram. 

Mbah Par Anti Belas Kasihan


Mbah Par wanita yang sudah paruh baya tetapi tidak ingin dianggap lemah. Dia tidak ingin hidup dengan rasa belas kasihan termasuk dari anaknya. Mbah Par paling anti sekali dengan pengemis. Walaupun lelah dia tidak sama sekali merasa patah semangat. 

Dirinya tetap berjalan tegak dengan optimis tanpa membungkukkan badan. Cara Mbah par menjalani hidup memang melihatkan dirinya orang yang penuh semangat. Ia tetap gigih dan melihat kehidupan dengan positif. Cara Mbah Par menjalani hidupnya sangat bisa menginspirasi Anda yang masih muda. 

Asuransi Wakaf dari Allianz untuk Mbah Par


Melihat Mbah Par menjalani hidupnya dengan penuh syukur membuat dirinya layak untuk diberikan asuransi wakaf. Sesuai dengan kategorinya pertolongan dari program wakaf akan sangat bermanfaat bagiannya dalam jangka panjang. Anda bisa menjadikan Mbah Par sebagai orang yang tepat. 

Anda yang memang sudah menjadi bagian dari pemegang polis di Asuransi Allianz bisa menanyakan program ini. Jika sudah mendapatkan informasi bisa langsung memberikan wakafnya dengan hati yang lebar dan senang. 

Tidak perlu kebingungan untuk mendapatkan informasi seputar program karena bisa dilihat di allianz.co.id. Lihat di bagian fitur wakafnya agar bisa menjadi bagian dari pemberi wakaf. Manfaat yang Anda berikan kepada orang lain akan mengalirkan banyak manfaat.  Asuransi wakaf salah satu jalan untuk berbuat amal dengan mudah.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Perjuangan Mbah Par, Penjual Kacang yang Pantang Mengemis"

Posting Komentar